Saat Semuanya Terasa Cepat, Dhuha Menjadi Ruang untuk Tenang

 


Pernah tidak merasa waktu berjalan begitu cepat? Rasanya baru saja memulai satu pekerjaan, tetapi hari sudah mulai gelap, atau bahkan satu tugas itu pun belum selesai sejak terang hingga gelap. Waktu seolah berlari tanpa memberi kesempatan untuk benar-benar berhenti dan istirahat.

Sebagai mahasiswa, hal seperti ini sudah menjadi hal yang biasa. Tugas, deadline, dan berbagai tuntutan membuat hari terasa penuh, sementara pikiran tidak pernah benar-benar diberi jeda. Hal ini dapat mengakibatkan tubuh, hati, dan pikiran menjadi lelah.

Lalu, kapan terakhir kali benar-benar berhenti sejenak?

Di tengah kesibukan duniawi itu, perlulah jeda sejenak, dan salat Dhuha bisa menjadi salah satu bentuk jeda yang sederhana dan menenangkan. Tidak membutuhkan waktu lama, cukup dua rakaat di sela aktivitas yang padat. Salat Dhuha juga memiliki keutamaan yang disebutkan dalam HR. Muslim, bahwa salat Dhuha menjadi bentuk sedekah bagi setiap persendian tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa Dhuha bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi juga memiliki makna yang besar.

Namun, sering kali muncul anggapan bahwa salat Dhuha menjadi solusi untuk menghindari masalah.

Nah, perlu dipahami bahwa salat Dhuha bukanlah solusi instan yang menghilangkan seluruh permasalahan. Tantangan, tekanan, maupun hari yang tidak berjalan sesuai harapan akan tetap ada dan terjadi. Kehidupan akan terus berjalan dengan dinamika yang menyertainya. Dengan hal ini, yang berubah hanyalah cara menghadapinya.

Dengan menyempatkan Dhuha, pikiran menjadi lebih tenang, respons lebih terkontrol, dan hal-hal yang sebelumnya terasa berat bisa dihadapi tanpa berlebihan. Sebaliknya, ketika terlewat, pikiran cenderung lebih mudah penuh dan emosi lebih cepat terpancing, karena terlalu terpacu pada satu hal yang dikerjakan tanpa memberi jeda jiwa maupun rohaninya.

Di sinilah pentingnya jeda.

Berikut langkah-langkah untuk membiasakan diri melaksanakan salat Dhuha:

  1. Sisihkan 5–10 menit di pagi menjelang siang

  2. Mulai dari rakaat yang rendah, yaitu dua rakaat

  3. Jangan menunggu luang, tetapi usahakan untuk menyempatkan

  4. Jadikan sebagai jeda atau istirahat sejenak, bukan beban tambahan

Pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan hari yang kosong tanpa aktivitas, melainkan keberanian untuk berhenti sejenak. Di tengah dunia yang terus mendesak untuk bergegas, Dhuha hadir sebagai pengingat lembut: ada ruang untuk tenang, ada waktu untuk kembali kepada-Nya. Sebab sering kali, bukan besarnya masalah yang membuat kita jatuh, melainkan karena kita tidak pernah memberi jeda untuk bersujud dan mengakui, “Ya Allah, hamba lelah.”

Penulis: Departemen Sosial Masyarakat

Editor:  Atabik Ali Abdul Qodir








Saat Semuanya Terasa Cepat, Dhuha Menjadi Ruang untuk Tenang Saat Semuanya Terasa Cepat, Dhuha Menjadi Ruang untuk Tenang Reviewed by AKMI UNTIRTA on April 27, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Photo on Flickr

Diberdayakan oleh Blogger.