𝗞𝗮𝗺𝗽𝘂𝘀 𝗛𝗲𝗯𝗮𝘁, 𝗧𝗮𝗽𝗶 𝗔𝗱𝗮𝗯 𝗧𝗲𝗿𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹: 𝗦𝗮𝗮𝘁 𝗣𝗲𝗹𝗲𝗰𝗲𝗵𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗻𝗼𝗿𝗺𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶

 




Fenomena pelecehan dan kekerasan seksual yang belakangan mencuat di berbagai kampus Indonesia tidak bisa dipandang sebagai sekadar kasus viral yang akan hilang seiring waktu. Ini adalah tanda bahwa ada persoalan mendasar dalam cara kita memandang manusia, menjaga batas, dan memahami kebebasan. Kampus yang seharusnya menjadi ruang tumbuhnya intelektualitas dan integritas justru dalam beberapa kasus memperlihatkan hal sebaliknya. Orang bisa sangat cerdas secara akademik, tetapi gagal menjaga kehormatan dirinya dan orang lain.


Pelecehan seksual sering kali dipahami secara sempit sebagai tindakan fisik. Padahal realitasnya jauh lebih luas. Ia hadir dalam bentuk ucapan, candaan, komentar, bahkan percakapan di ruang digital. Ketika seseorang menjadi objek pembicaraan seksual, ketika tubuh dijadikan bahan gurauan, atau ketika isi grup chat dipenuhi hal yang tidak pantas, maka pada saat itu pelecehan sudah terjadi. Tidak harus ada sentuhan untuk melukai. Kata-kata pun bisa merusak martabat seseorang.


Jika ditarik lebih dalam, masalah ini bukan hanya tentang individu yang salah. Ada pola yang berulang, dan itu menunjukkan adanya akar masalah yang lebih sistemik. Pertama, krisis adab dalam interaksi. Pendidikan sering kali berfokus pada capaian akademik, tetapi kurang menekankan pengendalian diri dan etika. Akibatnya, banyak yang tahu mana yang benar, tetapi tidak merasa perlu untuk menjaganya dalam perilaku sehari-hari.


Kedua, normalisasi perilaku menyimpang melalui budaya dan humor. Banyak hal yang sebenarnya tidak pantas justru dianggap wajar karena dibungkus dengan candaan. Kalimat seperti “cuma bercanda” menjadi tameng untuk menghindari tanggung jawab. Padahal sesuatu yang terus diulang lama-lama akan terasa biasa, meskipun sejak awal itu salah.

Ketiga, ruang digital yang minim kontrol moral. Grup chat dan media sosial sering dianggap sebagai ruang bebas. Orang merasa aman untuk berkata apa saja karena tidak berhadapan langsung dengan orang lain. Padahal dampaknya tetap nyata. Luka yang ditimbulkan oleh kata-kata tidak terlihat, tetapi bisa bertahan lama.


Dalam situasi seperti ini, Islam tidak hanya hadir sebagai aturan yang menghakimi di akhir, tetapi sebagai sistem yang membangun kesadaran sejak awal. Islam tidak menunggu seseorang melakukan kesalahan besar. Ia sudah mengatur dari hal-hal kecil yang sering diabaikan.

قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…”

(QS. An-Nur: 30)

Ayat ini mengajarkan bahwa menjaga kehormatan dimulai dari pandangan. Setiap perilaku selalu diawali dari cara melihat. Ketika seseorang terbiasa memandang orang lain sebagai objek, maka sangat mudah baginya untuk melanjutkan ke ucapan yang merendahkan. Dalam konteks hari ini, menjaga pandangan tidak hanya berarti secara fisik, tetapi juga bagaimana kita memandang orang lain dalam pikiran dan dalam pembicaraan.

Islam juga memberikan batasan yang sangat jelas tentang lisan.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah prinsip sederhana yang sering diabaikan. Banyak pelanggaran terjadi bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak merasa bersalah. Candaan seksual dianggap biasa, komentar tidak pantas dianggap lucu. Padahal dalam Islam, jika sebuah ucapan tidak baik, maka seharusnya tidak diucapkan sama sekali.

Selain itu, Islam menolak segala bentuk perendahan terhadap manusia.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًامِّنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka…”

(QS. Al-Hujurat: 11)

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap manusia memilikikehormatan. Ketika seseorang dijadikan bahan candaan atau objek pembicaraan yang tidak pantas, maka kehormatan itu telah dilanggar. Dan ketika hal ini terjadi secara berulang dalam sebuah kelompok, maka yang terbentuk adalah budaya yang salah.

Islam juga memiliki pendekatan pencegahan yang sangat kuat.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.”

(QS. Al-Isra: 32)

Perintah ini tidak hanya melarang tindakan akhir, tetapi juga semua hal yang mendekatkan ke arah tersebut. Ini termasuk ucapan yang tidak pantas, interaksi yang tidak terjaga, dan budaya yang membuka ruang bagi objektifikasi. Apa yang sering dianggap ringan sebenarnya adalah bagian dari proses menuju pelanggaran yang lebih besar.

Dari sini terlihat bahwa Islam tidak hanya memberikan larangan, tetapi juga solusi yang menyeluruh. Pertama, dimulai dari individu. Setiap orang perlu membangun kesadaran untuk menjaga pandangan, mengontrol ucapan, dan memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Tanpa kesadaran pribadi, aturan tidak akan berarti banyak.


Kedua, membangun lingkungan yang sehat. Budaya kampus harus berani menolak normalisasi perilaku menyimpang. Candaan yang merendahkan tidak boleh dianggap lucu. Harus ada keberanian untuk saling mengingatkan, bukan saling membenarkan.


Ketiga, penegakan aturan yang tegas. Pelanggaran harus ditindak dengan serius. Ini penting untuk memberikan efek jera dan melindungi korban. Tanpa ketegasan, nilai-nilai hanya akan menjadi teori tanpa makna.


Pada akhirnya, fenomena pelecehan di kampus bukan hanya tentang siapa yang salah, tetapi tentang arah moral yang sedang dibentuk. Apakah kita akan terus membiarkan hal-hal yang salah menjadi biasa, atau mulai kembali kepada nilai yang benar. Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana menjaga kehormatan manusia. Tinggal bagaimana kita memilih untuk menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Penulis : Raihan Ramadhan

Editor: Atabik Ali Abdul Qodir


Follow Us 🔍

📷 IG : @akmi.untirta

📧 Threads : akmi.untirta

👤 FB : Akmi Untirta

💻 YT : AKMI TV

🎶 TikTok : akmi.untirta_

🌐 www.akmi-untirta.com


#AKMIUntirta 

#KabinetAtsar 

#KeluargaSelamanya


𝗞𝗮𝗺𝗽𝘂𝘀 𝗛𝗲𝗯𝗮𝘁, 𝗧𝗮𝗽𝗶 𝗔𝗱𝗮𝗯 𝗧𝗲𝗿𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹: 𝗦𝗮𝗮𝘁 𝗣𝗲𝗹𝗲𝗰𝗲𝗵𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗻𝗼𝗿𝗺𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗞𝗮𝗺𝗽𝘂𝘀 𝗛𝗲𝗯𝗮𝘁, 𝗧𝗮𝗽𝗶 𝗔𝗱𝗮𝗯 𝗧𝗲𝗿𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹: 𝗦𝗮𝗮𝘁 𝗣𝗲𝗹𝗲𝗰𝗲𝗵𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗻𝗼𝗿𝗺𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 Reviewed by AKMI UNTIRTA on Mei 05, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Photo on Flickr

Diberdayakan oleh Blogger.