𝐎𝐯𝐞𝐫𝐭𝐡𝐢𝐧𝐤𝐢𝐧𝐠 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐭𝐚𝐥 𝐡𝐞𝐚𝐥𝐭𝐡: 𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐬𝐮𝐣𝐮𝐝 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐦𝐛𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐣𝐢𝐰𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐋𝐞𝐥𝐚𝐡
Apakah kalian sering mendengar atau melihat di media sosial istilah semacam insecure, overthinking, quarter life crisis, mental health, dan masih banyak lagi? Istilah tersebut kerap muncul di jagat media sosial terutama twitter. Bagi anak-anak muda yang getol menggunakan sosial media mungkin sering mendengar atau bahkan menggunakan istilah ini. Namun apakah penggunaan istilahistilah ini sudah benar?
Mengartikan istilah overthinking cukup relatif mudah dan dapat dipecah dari asal katanya yaitu dari 'over' yang berarti berlebihan dan 'think' yang berarti berpikir. Jadi orang yang overthinking adalah orang yang terlalu banyak berpikir. Namun jangan disamakan dengan para pemikir atau filsuf seperti Plato dan Aristoteles. Overthinking merupakan satu ritual yang dilakukan oleh anak-anak muda biasanya malam hari sebelum tidur. Sekelumit masalah yang dihadapi seharian serta perbandingan pencapaian atau achievement dengan orang lain yang biasanya teman sebaya berujung kepada kontemplasi malam hari yang berbuntut pada perasaan rendah diri. Ujung-ujungnya berakhir kepada susah tidur di malam hari dan akhirnya mengaku kalau dirinya mengidap 'insomnia' padahal hanya melamun memikirkan masalahnya. Istilah di atas bisa jadi merupakan fase yang dihadapi oleh anak-anak muda. Biasanya fresh graduate yang resah mencari kerja, kira-kira situasinya seperti lagu 'Sarjana Muda' dari Iwan Fals. Fase ini biasanya disebut dengan 'Quarter Life Crisis'.
Kesadaran atas keresahan-keresahan yang dialami anak-anak muda zaman sekarang ini bisa bersifat positif karena bisa memunculkan pengetahuan mengenai kesehatan mental atau mental health. Kesehatan mental akhir-akhir ini menjadi perhatian terutama anak-anak muda dan sudah menjadi bagian dari pop culture. Namun maraknya isu tentang mental health tetap memiliki sisi gelapnya. Banyak kita temui di media sosial orang yang mengaku mengidap penyakit mental seperti anxiety disorder, bipolar disorder, depresi, dan lain-lain. Romantisasi tentang penyakit mental biasanya berakar pada kultur anak muda seperti musik yang didengarkan karena banyak sekali musisi yang menggaungkan pentingnya kesadaran akan kesehatan mental seperti Hindia dalam lagu 'Secukupnya', Kunto Aji dalam 'Pilu Membiru', dan nomor seperti 'Bertaut' oleh Nadin Amizah. Perilaku self-proclaim seperti ini tidaklah dibenarkan karena seseorang tidak dapat mendiagnosa penyakit mentalnya sendiri. Di saat seseorang merasa mentalnya memiliki gangguan, disarankan untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog ataupun psikiater karena sejatinya penyakit mental merupakan hal yang serius dan tidak bisa didiagnosa secara sepihak.
Di antara hiruk pikuk kehidupan modern, di mana manusia berlari dikejar waktu, ada satu gerakan sederhana yang diam-diam menyimpan samudra makna: sujud. Ia adalah titik terendah tubuh, namun puncak tertinggi kehormatan seorang hamba. Saat dahi menyentuh bumi, bukan hanya tanah yang kita rasakan, tetapi langit yang kita gapai. Imam AlGhazali pernah menulis, “Sujud adalah rahasia ketundukan. Ia bukan sekadar menundukkan kepala, tetapi menundukkan ego.” Dalam sujud, manusia meletakkan simbol keangkuhannya wajahnya pada debu, seolah berkata kepada
Rabb-nya: “Aku bukan siapa-siapa, kecuali hamba-Mu.”
DILEMA MANUSIA MODERN: MENGAPA KITA MUDAH LELAH?
Fear of Missing Out (FOMO) adalah sebuah kondisi psikologis yang ditandai dengan perasaan cemas, khawatir, atau gelisah karena merasa tertinggal dari pengalaman, informasi, atau peluang yang dianggap lebih baik daripada apa yang sedang dialami pada saat ini. Perasaan ini sering muncul ketika seseorang membandingkan kehidupannya dengan orang lain, terutama melalui unggahan di media sosial yang cenderung menampilkan momen-momen terbaik dalam kehidupan seseorang. Foto perjalanan ke destinasi eksotis, partisipasi dalam acara sosial bergengsi, atau pengumuman pencapaian pribadi seperti promosi pekerjaan, wisuda, atau keberhasilan lainnya menjadi pemicu utama yang dapat memperparah rasa FOMO. Selain itu, tuntutan akademik, seperti ujian, tugas, dan tekanan untuk mencapai prestasi tinggi, dapat menjadi sumber stres yang signifikan bagi pelajar. Perasaan tidak mampu memenuhi harapan atau mencapai tujuan dapat menyebabkan stres akademik. Tantangan hidup seperti yang berkaitan dengan harapan untuk mencapai citacita dan tujuan pribadi juga dapat menyebabkan stres. Perasaan tidak mampu mengatasi tantangan atau memenuhi harapan diri sendiri dan orang lain dapat menambah beban mental. Strategi manajemen waktu dan dukungan emosional dari lingkungan sekitar dapat membantu dalam mengatasi tantangan ini.
AL-QUR’AN SEBAGAI ‘SYIFA’ (OBAT JALUR
LANGIT)
الََّذِيْنَ اٰمَنوُْا وَتطَْمَئِ ن ق لُوُْبهُُمْ بِذِكْرِ اللِّٰ ۗ اَ لَ بِذِكْرِ اللِّٰ تطَْمَئِ ن
الْقلُوُْبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman mendapatkan ketenangan hati dengan mengingat Allah. Dzikir atau mengingat Allah mencakup semua bentuk ibadah seperti shalat, membaca Alquran, dan doa. Hati yang tenteram adalah hasil dari iman yang kuat dan hubungan yang dekat dengan Allah. Ibnu Katsir menekankan bahwa ketenangan hati tidak dapat diperoleh dari hal-hal duniawi, tetapi hanya dari hubungan yang tulus dengan Allah.
Sementara al-Qurtubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan pentingnya dzikir sebagai sumber ketenangan dan kedamaian batin. Dia menyebutkan bahwa mengingat Allah mencakup berbagai bentuk ibadah dan ketaatan. Al-Qurtubi juga menekankan bahwa orang-orang yang beriman merasakan ketenangan yang mendalam karena mereka memiliki keyakinan penuh pada kekuasaan dan rahmat Allah, yang memberikan mereka perlindungan dan ketentraman dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.
Banyak yang datang ke sajadah bukan dengan tubuh sakit, tetapi dengan jiwa yang retak. Mereka membawa kegagalan, kesedihan, kehilangan, dan ketakutan. Sujud adalah tempat di mana air mata tak lagi dianggap kelemahan. Di sanalah Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan doa-doa paling sunyi, termasuk saat beliau berbisik dalam sujud panjang di malam hari:“Ya Allah, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku nyatakan.” (HR. Muslim)
Kisah Ummu Salamah, salah satu istri Rasulullah ﷺ, juga menjadi cermin. Setelah kehilangan suaminya, beliau diajarkan doa oleh Rasulullah: “Ya Allah, berikan aku pahala atas musibah ini, dan gantikan untukku yang lebih baik darinya.” Doa ini dibaca berulang dalam sujud-sujud malamnya, hingga Allah mengganti kesedihan itu dengan kebahagiaan menikah dengan Rasulullah ﷺ. Sujud, pada akhirnya, adalah terapi jiwa. Ia mengajarkan bahwa luka bukan untuk disembuhkan dengan melupakan, tetapi dengan menyerahkan sepenuhnya kepada Sang Penyembuh.
LANGKAH PRAKTIS MELEPAS STRES ALA MUSLIM KONTENPORER.
1. Regulasi emosional lewat wudhu dan sholat tepat waktu.
Shalat merupakan bentuk komunikasi spiritual antara hamba dan Allah yang meliputi pemujaan, pengingatan, dan pengagungan. Bagi mereka yang mengalami kecemasan, shalat dapat memberikan ketenangan batin yang signifikan. Perasaan damai ini muncul ketika shalat dilakukan dengan penuh khusyuk dan konsentrasi. Selama shalat, frekuensi gelombang otak alfa yang dipancarkan tubuh mengalami perubahan, sehingga tubuh menjadi rileks dan tenang. Oleh karena itu, shalat memiliki peran penting dalam membantu mengatasi kecemasan, dengan syarat pelaksanaan dilakukan dengan fokus, khusyuk, dan niat yang sungguh-sungguh. Shalat mengajarkan manusia bahwa segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan merupakan bagian dari kehendak Ilahi. Kesadaran ini melahirkan kemampuan untuk mengelola emosi sesuai dengan kualitas shalat yang dilaksanakan. Dalam Surah Al-Ma’arij ayat 19– 23, Allah SWT menyingkapkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk bersikap gelisah dan pelit, kecuali mereka yang senantiasa menjaga ibadah shalatnya. Ibadah ini memiliki peran penting dalam menstabilkan kondisi emosional dan membangun kedewasaan spiritual.
2. Digital detox (puasa media sosial) di ganti dengan tadarus.
Secara psikologis, media sosial bekerja dengan memberikan hadiah instan (instant reward) kepada otak. Puasa, sebaliknya, adalah tentang penundaan kepuasan (delayed gratification). Reset Dopamin: Dengan mengurangi durasi layar sejak H-3, kita sedang mengistirahatkan pusat penghargaan di otak. Kesehatan Mental: Mengurangi konsumsi konten yang tidak perlu akan menurunkan tingkat "kebisingan" di kepala, sehingga batin menjadi lebih tenang dan siap memasuki mode mindfulness di malam pertama Ramadhan. Kajian mengenai Psikologi Digital Detox dalam bingkai menyambut Ramadhan bukan sekadar soal mematikan ponsel, melainkan sebuah upaya sistematis untuk melakukan "Restorasi Fitrah". Di era disrupsi, sirkuit dopamin kita telah mengalami malfungsi, kita menjadi pecandu stimulasi cepat yang membuat jiwa kita gelisah dan sulit merasakan kedalaman spiritual.
3. Berpaasrah (tawakal) aktif setelah berusaha maksimal.
Tawakkal berasal dari kata "توكّ ل" yang berarti mengandalkan, berserah diri, atau mempercayakan segala urusan kepada pihak lain. Dalam syariat, tawakkal memiliki makna menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah melakukan usaha yang maksimal, dengan keyakinan bahwa segala sesuatu ditentukan oleh-Nya. Pengertian ini mengandung dua unsur penting: usaha atau ikhtiar dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.
وَمَنْ يتَوََكَّلْ عَلَى اللَِّّ فَهُوَ حَسْبهُ ُ
"Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya."
(QS. At-Talaq: 3)
Ayat ini menunjukkan janji Allah bahwa orang yang bertawakkal kepada-Nya akan dicukupi kebutuhannya. Ini berarti seorang Muslim yang telah berikhtiar maksimal kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah, akan memperoleh ketenangan karena yakin bahwa Allah akan mencukupi segala keperluannya.
KESIMPULAN
Berpikir dengan sungguh-sungguh adalah hal yang normal terjadi pada manusia. Namun, berpikir secara terus menerus dalam kurun waktu yang lama akan sangat menganggu dan membuat perasaan menjadi tertekan yang dapat mempengaruhi kesejahteraan mental individu. Overthinking tidak mendorong individu untuk menemukan solusi dari suatu permasalahan. Sebaliknya, overthinking seringkali menjadi masalah baru dengan munculnya presepsi negatif terhadap diri sendiri, hal ini dapat menghambat kemajuan dalam hidup seseorang. Kebiasaan berpikir yang berlebihan mengarah pada hal negatif yang dapat merugikan diri sendiri.
Overthinking tanpa adanya kontrol diri untuk menyadari suatu permasalahan tersebut dapat mendorong seseorang mengalami gangguan kesehatan mental yang lebih berat.
Overthinking atau berpikir secara berlebihan biasanya dilakukan karena mencemaskan atau mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi maupun sudah terjadi dan membuatnya menjadi tampak semakin rumit. Overthinking tidak hanya memikirkan hal-hal yang serius, namun dapat juga disebabkan karena memikirkan hal-hal kecil yang sebenarnya sepele. Overthinking menjadi salah satu permasalahan psikologis yang dapat menghambat kegiatan dalam kehidupan seharihari. Dalam konteks bimbingan dan konseling, overthinking dapat menjadi hambatan yang dapat berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan, penyelesaian masalah, dan pengelolaan emosi. Jika kondisi ini tidak segera ditangani seiring berjalannya waktu, maka akan membuat individu semakin meragukan dirinya sendiri, kesulitan mengontrol pikiran hingga sulit membuat keputusan serta hal-hal lainnya yang memberikan dampak buruk bagi fisik maupun mental (Morin, 2023). Overthinking juga dapat berpengaruh pada kesejahteraan hidup seseorang dan mengganggu kualitas hidupnya. Oleh karena itu, penting untuk memahami lebih dalam tentang fenomena overthinking dalam lingkup bimbingan dan konseling untuk memberikan intervensi yang efektif.
Sujud bukan hanya merupakan kewajiban ritual dalam Islam, tetapi juga merupakan praktik spiritual yang memiliki dimensi psikologis yang mendalam. Melalui kerendahan hati yang diekspresikan dalam posisi sujud,
seseorang dapat mengalami ketenangan jiwa, regulasi emosi yang lebih baik, dan peningkatan kesejahteraan mental secara keseluruhan. Dalam era modern yang penuh dengan tantangan psikologis, memahami dan menghayati dimensi psikologis sujud dapat menjadi kunci untuk mencapai keseimbangan mental dan spiritual. Sujud mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan untuk merendahkan diri di hadapan Yang Maha Kuasa, dan dari kerendahan hati inilah lahir ketenangan jiwa yang hakiki. Dengan demikian, sujud tidak hanya menjadi sarana komunikasi vertikal dengan Allah, tetapi juga menjadi terapi psikologis yang efektif untuk menghadapi kompleksitas kehidupan modern. Melalui praktik sujud yang konsisten dan penuh penghayatan, setiap muslim dapat merasakan transformasi positif dalam dimensi psikologis dan spiritual kehidupannya.
Komentar
Posting Komentar