𝐓𝐞𝐦𝐞𝐧𝐚𝐧 𝐛𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐚𝐣𝐚, 𝐚𝐬𝐚𝐥 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐤𝐮𝐭 𝐤𝐞𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐚𝐣𝐚

Pernah nggak merhatiin, dari sekian banyak orang yang kita kenal di kampus, ada beberapa yang entah kenapa jadi paling sering kita temui? Circle organisasi, circle tugas kelompok, circle nongkrong sepulang kuliah, sampai circle yang isinya cuma kumpul buat main. Semua itu terasa wajar, karena memang begitu cara pertemanan terbentuk di masa kuliah.
Tapi ada satu hal yang jarang disadari dari kebiasaan berkumpul itu. Tanpa kita sadari, orang orang yang paling sering kita temui pelan pelan ikut membentuk cara kita berpikir, cara kita menyikapi sesuatu, bahkan standar hidup yang kita pegang.
Rasulullah pernah memberi perumpamaan yang sederhana soal ini. Teman yang baik itu seperti penjual minyak wangi, sekalipun tidak membeli, setidaknya kita ikut kecipratan wanginya. Sementara berteman dengan orang yang kurang baik pengaruhnya, ibarat berada di dekat tukang pandai besi, kalau tidak kena percikan apinya, setidaknya kena asapnya juga.
Bukan berarti kita jadi harus pilih pilih teman sampai menjauh dari orang lain. Islam justru mengajarkan untuk tetap terbuka dan ramah ke siapa saja. Yang perlu dijaga bukan siapa yang kita temui, tapi sejauh mana kita sadar diri terhadap apa yang sedang mempengaruhi kita.
Di kampus, situasi seperti ini sering muncul tanpa disadari. Diajak nongkrong sampai lupa waktu salat, ikut circle yang terbiasa membicarakan orang lain lalu lama lama ikut terbawa, atau merasa tidak enak menolak ajakan yang sebenarnya bertentangan dengan nilai yang kita pegang. Bukan karena orangnya salah, tapi karena kita lupa menjaga batas untuk diri sendiri.
Pada akhirnya, pertemanan itu bukan soal seberapa luas circle yang kita punya, tapi soal siapa diri kita di tengah circle itu. Tetap boleh dekat dengan siapa saja, tetap boleh gaul seluas luasnya, asal jangan sampai kehilangan arah hanya karena takut dianggap tidak asik.
Sebab bukan lingkaran pertemanan yang menentukan arah hidup seseorang, melainkan seberapa teguh ia berpegang pada prinsipnya sendiri, sekalipun berada di tengah lingkaran yang berbeda beda.
Editor: Shoyffiyah
Penulis: Departemen Sosmas
Komentar
Posting Komentar